Kala Mendung Menyapa
Entahlah. Hari demi hari wajah dunia semakin buram. Mendung seakan tidak pernah sirna dari permukaan bumi. Rintihan kesakitan sudah menjadi nyanyian syahdu yang senantiasa terdengar. Wajah ketakutan dan kegelisahan sudah sangat akrab terlihat pada raut wajah jiwa-jiwa tak berdosa. Tangisan orang tua dan anak-anak sudah lumrah untuk didengar. Desingan peluru dan dentuman bom kerab akan selalu menebar pesan maut dan kematian.
Perdamaian yang didambakan seakan jauh dari harapan. Lebih susah dari sekedar mencari intan di dasar lautan. Di saat ratusan bahkan ribuan nyawa meregang, mereka para pembesar negara hanya pandai berkomentar di atas singgasananya..
Barangkali umur dunia akan menghembuskan nafas terakhirnya. Betapa tidak, pertikaian dan peperangan seakan menjadi aktifitas rutin anak manusia. Pertumpahan darah senantiasa membasahi bumi ini.
Selesai satu konflik, maka tanpa harus dikomandoi muncul konflik lain yang lebih dasyat. Apakah mungkin ini merupakan dosa warisan yang telah dilakonkan oleh habil dan qabil? Yang jelas pembunuhan sesame manusia kian merajalela.
Perang dalam skala besar kian diambang mata. Perang dasyat mungkin akan terjadi. Cobalah perhatikan, betapa banyak Negara besar kian sibuk membicarakan senjata-senjata pemusnah massal. Apalagi kalau bukan isu nuklir yang dimiliki Negara ketiga. Disaat yang sama Negara super power mulai menyiapkan senjata penangkis dari ancaman nuklir. Yang jelas ini bukan senjata biasa atau bom dan altiteri yang sering digunakan militer. Barangkali isu ini hanya apologi bagi Negara kuat untuk melegalkan penggunaan senjata-senjata haram! Walau hakikatnya jauh hari ‘mereka’ sudah memilikinya.
Apapun ceritanya, di sana semakin banyak nyawa tak berdosa melayang sia-sia. Nyawa manusia seakan tidak ada harganya lagi. Jiwa ini semakin sesak kala melihat, mendengar dan membaca berita yang ada. Suguhan berita hari demi hari tidak lepas dari “penangkapan, pembunuhan, pembantaian, dan penghancuran, ” semoga ini menjadi isyarat bagi kita bahwa umur dunia sudah mendekati ajalnya. wallahu a'lam




kirim ke teman
versi cetak