Kadis NAD Kunjungi Mahasiswa Aceh di Mesir
Kadis Pendidikan
NAD Temu Ramah dengan
Warga KMA
Zahrul
Bawady M. Daud*
Kairo - Setelah sekian
lama
tidak dikunjungi pejabat pemerintah, kemarin, Selasa, 28 april 2009, Keluarga
Mahasiswa Aceh (KMA) kedatangan tamu penting dari jajaran pemerintah Aceh. Tamu
yang dimaksud adalah Bapak Muhammad Ilyas, SE, MM., Kepala Dinas Pendidikan
Nanggroe Aceh Darussalam.
Kehadiran Bapak Kadis Pendidikan NAD itu
didampingi oleh Bapak Meridas Eka Yora, Lc., pendiri sekaligus direktur lembaga
Fajar Hidayah yang menangani masalah pendidikan Islam, Ibu Dragasari Rangkuti,
MBA., dan Bapak Mawardi Hasan, M.E dari unsur Majelis Pendidikan Daerah.
Kadis Pendidikan yang telah beberapa hari
berada di Mesir menyempatkan diri bertemu dengan ratusan mahasiswa asal Aceh
yang sedang menuntut ilmu di berbagai universitas di Mesir. Kunjungan rombongan
ini ke Mesir adalah dalam rangka Seminar Internasional masalah pendidikan di
salah satu Universitas Sohaj, Sa'id, Mesir.
Setelah beberapa pengurus harian KMA
melakukan lobi kepada Bapak Kadis, akhirnya beliau berkenan bertatap muka
dengan masyarakat Aceh yang saat ini sedang mempersiapkan diri menjelang ujian yang akan dimulai beberapa
hari ke depan.
Acara yang dimulai pukul 17. 00 WK itu
disesaki oleh segenap lapisan mahasiswa Aceh. Meski sedang diselimuti suasana belajar, lebih dari
200 mahasiswa/i menghadiri pertemuan dengan rombongan Kadis Pendidikan.
Dalam pengantarnya, Bapak Kadis
menceritakan suasana terakhir Aceh saat ini. "Aceh merupakan salah satu
daerah yang paling aman dari segi politik, hal ini dibuktikan dengan suksesnya
pemilu awal april lalu yang mengantar salah satu partai lokal, Partai Aceh
meraih kursi signifikan di parlemen, menanggapi kekacauan selama ini, beliau
mengungkapkan bahwa itu adalah tindakan kriminal yang tidak ada sangkut pautnya
dengan politik. Kalau dihitung tindakan kriminal, maka daerah lain pun lebih
banyak," ujar beliau menyakinkan keamanan di Aceh.
Pertemuan ini juga menjadi ajang
sosialisasi program bagi Kadis. Program utama beliau adalah membangun pendidikan
di daerah terpencil. Wilayah Aceh yang terisolir coba dijajaki untuk kemudian
dibangun. Salah satu pembangunan yang paling efesien adalah
membangun pendidikan, oleh karena itu saat ini telah ada 300 orang calon guru
yang berasal dari daerah terpencil yang sedang menempuh pendidikan di berbagai
universitas di Aceh.
Mengenai rekruitmen calon guru yang
keseluruhannya dari daerah terpencil tersebut, beliau mengungkapkan, “hal ini
adalah untuk mengoptimalkan penempatan mereka nantinya. Karena selama ini kebanyakan
guru-guru yang ditempatkan di daerah terpencil enggan untuk mengajar, bahkan
mereka berusaha dapat pindah ke daerah yang lebih mudah dijangkau. Jika gurunya
dari daerah tersebut maka permasalah seperti di atas akan teratasi”, ujar Ilyas
lebih lanjut.
Selain itu, masalah pendidikan Islam juga
menjadi prioritas Dinas Pendidikan periode ini.
Beliau juga menyorot kondisi pergaulan dan moral pelajar Aceh yang masih
sangat jauh dari nilai-nilai Islam. “Seharusnya,
julukan Serambi Mekkah harus kita aktualisasikan dalam kehidupan nyata, tidak
malah sebaliknya”, pungkasnya.
Meridas Eka Yora, Pendiri lembaga
pendidikan Fajar Hidayah yang juga alumnus master dari Universitas Indonesia
diberikan kesempatan untuk berbicara di hadapan mahasiswa Aceh. Dalam penyampaiannya
beliau menegaskan pentingnya pendidikan Islam. Fajar
Hidayah yang beliau dirikan merupakan corong pendidikan Islam yang
sedang coba dibangun. Sampai saat ini, Fajar Hidayah telah membuka cabang di
berbagai daerah, termasuk di Aceh. Selain itu, beberapa negara tetangga juga
sudah mulai dibangun jaringan. “Sekarang kita sedang mencoba membuka cabang di
daerah Timur Tengah seperti Gaza, Dubai dan negara lainya” ungkap Meridas.
Menurut Meridas, pendidikan Islam saat
ini mendapat tantangan yang sangat besar, rendahnya pemahaman masyarakat akan
pengetahuan dasar keislaman membuat aplikasi model pendidikan Islami menjadi
semakin rumit. Beliau juga menyayangkan sikap umat Islam yang saat ini semakin
menjauh dari nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, sebagai wujud keprihatinannya beliau
mendirikan lembaga pendidikan yang fokus kepada ajaran Islam, walaupun tidak menutup
mata terhadap perkembangan pengetahuan dan teknologi.
Dalam penyampaian Ilyas dan Meridas,
kemampuan anak didik dan pendidik menanggapi kemajuan teknologi menjadi salah
satu titik fokus. Tidak etis di zaman modern para guru tidak bisa memanfaatkan
kemajuan zaman yang sudah semakin canggih. Perlu adanya usaha signifikan dari
berbagai pihak untuk mewujudkan murid dan guru yang peka teknologi. Bahkan
Ilyas beberapa waktu yang lalu mencoba menjalin hubungan dengan beberapa
perusahaan agar diberikan kemudahan bagi guru yang menginginkan perangkat
komputer atau notebook. Hal ini ujarnya, untuk meningkatkan persaingan dan daya jual Aceh di mata daerah
lain. Senada dengan itu, Meridas juga mengungkapkan niatnya untuk menjadikan
Fajar Hidayah di Aceh menjadi sekolah Islam percontohan di dunia. Dan ini
sangat mungkin, mengingat Aceh telah diberlakukan Syariat Islam ungkapnya
optimis.
Dalam pertemuan singkat di Meuligoe KMA
yang juga menjadi sekretariat masyarakat Aceh itu, Bapak Kadis
menyerahkan bantuan 10 unit komputer untuk mengembangkan operasional dan
kreatifitas mahasiswa Aceh-Mesir. Beliau juga memberikan angin segar bagi
mahasiswa yang telah selesai untuk mengabdi di Aceh demi terlaksananya program
kemaslahatan yang telah dirancang.
Ketika sesi tanya jawab, beberapa
mahasiswa tampak mengeluarkan keluh kesahnya, mulai dari saran terhadap Bapak Kadis
sampai dengan permohonan bantuan rumah yang beberapa waktu lalu telah diusulkan
kepada pemerintah NAD. Zikran Amnar, Lc. yang juga ketua Panitia
Pengadaan Rumah berpendapat bahwa seyogyanya Pemda harus lebih memperhatikan
kehidupan mahasiswa di sini (Mesir). Salah satu bentuk perhatian yang
diharapkan adalah bantuan rumah bagi mahasiswa. Di hadapan Kadis Pendidikan ia
mengungkapkan kekecewaannya akibat penolakan proposal bantuan rumah yang telah
diajukan. Menurut Zikran, pengadaan rumah ini adalah untuk menambah fokus
belajar mahasiswa agar terformat lebih rapi dan mudah. Harus diakui, biaya sewa
rumah bagi mahasiswa yang akhir-akhir ini melonjak membuat beberapa mahasiswa
yang agak rendah tingkat ekonominya kepayahan. “Dengan adanya rumah bagi
mahasiswa ini juga diharapkan agar prestasi mahasiswa Aceh ke depan meningkat”,
ujar Zikran diplomatis.
Pertanyaan di atas mendapat tanggapan
serius dari Bapak Kadis. Beliau berjanji akan memperjuangkan aspirasi tersebut
kepada pihak DPRA, “karena yang memiliki hak untuk menyetujui anggaran
pengadaaan rumah itu adalah mereka (DPRA)”.
Acara yang diselingi dengan salat magrib
itu diakhiri dengan nasehat dari Ilyas dan Meridas agar para mahasiswa memanfaatkan
kesempatan belajar di negeri yang penuh dengan ilmu ini. Beliau berdua
mengungkapkan kekagumannya dengan kondisi intelektualitas di Mesir. Diharapakan, mahasiswa yang ada di sini akan
dapat menambah warna Aceh dalam terma syariat Islam nanti sekembali ke tanah
rencong.
Sebelum beranjak dari meuligoe, Ketua KMA
Yusri Noval menyerahkan plakat kenang-kenangan serta beberapa buku yang
merupakan hasil karya Mahasiswa Aceh, di antaranya Buku Panduan ke Mesir dan
Azhar yang merupakan panduan terkomplit mengenai Al-Azhar dan Mesir yang ada
saat ini dan juga buku kumpulan cerpen Kita Menikah di Surga. Yusri juga berharap agar Pemda lebih
memperhatikan nasib mahasiswa termasuk dalam hal bantuan dana pendidikan yang
selama ini dirasa masih sangat minim. “Hal ini juga akan berpengaruh untuk
menyiapkan calon pendidik Islam di tanah Aceh nanti”, ujar Yusri.
* Penulis adalah
mahasiswa Al-Azhar, pengurus Keluarga Mahasiswa Aceh dan aktivis WAA




kirim ke teman
versi cetak